Melayani & Melindungi Dengan Nurani

SIKAT SINDIKAT dan GEBRAKAN REVOLUSIONER di BP2MI

1,596
Oleh : Bung Amas, Satgas BP2MI
BANYAK pihak yang tak mengira bahwa perlawanan dan perombakan permanen terhadap pergerakan Sindikat (Mafia) penempatan Ilegal Pekerja Migran Indonesia (PMI) akan dilakukan. Benny Rhamdani, Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) ternyata pemberani.

Kenapa demikian disebut pemberani?, karena sosok yang satu ini berani melawan bisnis gelap yang selama ini telah mengakar. Bisnis penjualan manusia atas manusia. Dahulu yang kita kenal Tenaga Kerja Indonesia (TKI), citranya begitu buruk.

Kini tidak sekedar transformasi nama TKI ke PMI. Lebih dari itu, Benny sang pendobrak kejahatan kemanusiaan itu merehabilitasi dan melakukan rekonstruksi. PMI dicita-citakan menjadi warga VVIP.

Mereka adalah Pahlawan Devisa. Itu sebabnya, Kepala BP2MI memperlakukan mereka istimewa. Meski dengan cacian, tuduhan serius, nyinyir dan sinisme dari oknum-oknum tertentu yang bisnisnya kotornya terganggu.

Jabatan hanyalah soal kedudukan sementara. Tidak abadi. Sehingga posisi sebagai pengambil kebijakan yang ia pangku sekarang diabdikan sepenuhnya untuk rakyat Indonesia. Untuk PMI, bukan untuk para calo.

Benny tidak mau lagi PMI dibodohi. Dijajah dan ditindas hak-haknya seperti kemarin, atau sisa-sisa dari braktek barbar, dehumanis yang dilakukan Majikan di Negara penempatan saat ini. Menyikapi itu, Benny menegaskan sikap perang terhadap Sindikat.

Tanda perang tersebut dituangkan dalam jargon SIKAT SINDIKAT. Bagaimana tidak, sesuai data, kebanyakan PMI yang diperlakukan tidak manusiawi yakni mereka yang berangkat atau diberangkatkan secara non-prosedural.

Berangkat ke Negara tempatan dengan jalur gelap. Tidak mengikuti ketentuan hukum yang ditetapkan Negara. Padahal, ketika mereka mendapati masalah, dijahati Majikan, tetap saja BP2MI hadir dan membantu mereka.

Cara menghentikan praktek jahat itu dilakukan Benny dari Hulu hingga Hilir. Brani, Ketua Komite I DPD RI periode 2014-20219 yang juga kini sebagai Wakil Ketua Bidang OKK DPP Partai Hanura ini akrab disapa mengerti betul resiko yang akan diterimanya.

Diantara ribuan resiko itu adalah dimusuhi atau dialienasi (diasingka) kelompok pengusaha jahat dan juga rakus. Pengusaha pengiriman PMI yang selama ini nyaman dengan usahanya harus ikat pinggang. Bagaimana tidak, sebagian keberangkatan PMI bermasalah yang dalam istilah Benny sebagai PMI terkendala dihentikan Benny.

Rugilah tentu para bandar, sponsor, calo atau yang umum disebut donatur. Kaki tangan pemilik modal besar yang bermain dalam penempatan ilegal PMI dibantai Brani. Tidak ada kompromi bagi calo, kata Brani yang juga mantan Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara 3 periode ini.

SIKAT SINDIKAT mulai berhasil melahirkan barisan pembully di Medsos. Mereka yang tentu ada korelasinya dengan bisnis gelap tersebut. Boleh jadi mereka yang nyinyir dan antipati terhadap Kepala BP2MI sebetulnya hanyalah pion, kaki tangan dari Sindikat.

Yang bermain di air keruh. Mereka memanfaatkan situasi Covid-19, dengan masih tertundanya keberangkatan Calon PMI Korea Selatan dan Taiwan. Sampai-sampai kelompok inipun lupa bahwa di Negara penempatan lainnya, proses penempatan PMI sedang jalan.

Untuk kasus Korea Selatan, sebelumnya Negara tersebut masih menutup penerimaan PMI. Seperti itu pula Taiwan, yang begitu ketat menerima PMI. Artinya, CPMI harus menghormati kebijakan Negara tujuan penempatan yang belum mau menerima PMI karena pandemi Covid-19.

Bukan malah marah-marah. Menebar informasi hoax, mendistribusi tuduhan membabi-buta terhadap BP2MI. Yang ada malah problum baru yang dilahirkan. Harus mereka CPMI menerima secara terbuka upaya dan ikhtiar yang dilakukan Kepala BP2MI untuk berkolaborasi mencari solusi bersama.

Agar apa?, ya agar CPMI secepatnya diberangkatkan. Niat mulia Brani selaku Kepala BP2MI yang disampaikannya berulang-ulang, baik dalam Rapim maupun acara-acara besar di Internal BP2MI bahwa CPMI Korea Selatan dan Taiwan harus segera diberangkatkan.

Negara wajib hadir dalam urusan ini. Bukan membuat ribet, mencaru-cari masalah. Metode dialog bersama, tatap muka dan mencari solusi untuk transparansi telah dilakukan Brani. Lihat saja, ia beberapa kali menemui Menaker, TETO, Kedutaan Besar Korea.

Serta usaha lainnya yang prioritas bagi Benny jangan sampai melanggar aturan. Kerinduannnya agar CPMI berangkat harus terwujud. Brani menyampaikan keprihatinannya pada CPMI yang telah mengeluarkan uang, bahkan meminjam ke rentenir atau ke donatur demi untuk berangkat sebagai PMI.

Yang dirasakan CPMI, juga dirasakan Kepala BP2MI. Jangan mai CPMI dimanfaatkan, didompleng kelompok kepentingan tertentu. Jika CPMI sadar posisi dan benar-benar mau berangkat, cukup mereka berkonsultasi, berdiskusi, mencari solusi bersama BP2MI.

Jangan malah memusuhi kebijakan BP2MI. Miris melihatnya. Niat baik BP2MI untuk mengurus keberangkatan CPMI yang sedang tertunda malah dibalas dengan tuba. Kita mendoakan agar Allah SWT memberi hidayah kepada mereka yang selalu menci-maki BP2MI, sehingga insyaf kembali ke jalan yang benar.

Gebrakan REVOLUSIONER Benny begitu beresiko. Tapi mampu diambilnya. Sebab resiko jabatan, keselamatan dan reputasi menjadi taruhannya. Melawan Sindikat, bukan semudah membalikkan telapak tangan. Brani tahu betul bagaimana Sindikat berkonspirasi.

Memperkuat misi suci SIKAT SINDIKAT, maka BP2MI membentuk SATGAS. Brani mempelopori dan mengesahkan pembentukan SATGAS tersebut. Hasilnya nyata. Sejumlah kaki tangan calo mulai ditangkap pihak Kepolisian atas laporan dan kerja sama BP2MI. Yakinlah, satu persatu calo atau Sindikat akan ditangkap.

Tinggalkan Balasan